Terbitnya HIKMAH



Melihat perkembangan mutakhir sejak beberapa tahun ini di mana umat Melayu Islam di Malaysia diasak dari pelbagai arah, umat Islam umumnya seluruh dunia ditekan dengan pelbagai peristiwa yang kelihatan dirancang untuk menjatuhkan agama yang syumul ini, ramai yang mula bimbang tentang nasib mereka, agama, bangsa dan negara akan datang. Sesungguhnya segala yang terjadi itu seperti membenarkan hadis-hadis Nabi Muhammad SAW tentang peristiwa akhir zaman di mana dikatakan umat Islam akan disembelih di mana-mana dan kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Himpunan Kedaulatan Melayu Islam Akhir Zaman (HIKMAH) diwujudkan Jumaat malam Sabtu, 12 Oktober 2012 sebagai reaksi terhadap perkembangan yang menggelisahkan ini. Ia adalah ikatan longgar para pengkaji/peminat sejarah dan budaya Melayu dan Islam yang sering berbincang dan berhubung melalui Internet terutama di Facebook.


HIKMAH adalah lanjutan daripada cadangan untuk mengadakan satu sesi kecil seminar/syarahan tentang sejarah Melayu Islam oleh penulis bebas Radzi Sapiee, graduan matematik dari University College of London dan bekas wartawan The New Straits Times yang telah menulis trilogi novel pencarian jati diri Melayu Islam bertajuk “Berpetualang ke Aceh” (terbit 2006-2007). Penulis memiliki sejumlah peminat dan pengikut tersendiri yang selalu mengikuti perkembangannya melalui penulisan dan perkongsian pendapat serta pengalaman hidup di blog juga di Facebook. Apabila ditawarkan untuk menggunakan sebuah dewan yang katanya boleh memuatkan lebih 200 orang, penulis pun mengajak rakan-rakan dan kenalan turut sama berkongsi buah fikiran. Dalam masa yang singkat HIKMAH mendapat sambutan di luar dugaan. Walaupun menghadapi beberapa halangan termasuk dibatalkan penggunaan dewan pada saat-saat akhir akibat campur tangan pihak yang bermotifkan politik, acara pertama HIKMAH yang dikecilkan daripada cadangan asal lalu dijadikan acara santai “Suai Kenal HIKMAH” tetap dapat diadakan dengan jayanya Ahad 4 November di Shah Alam.


Walaupun baru diterbitkan cuma 3 minggu HIKMAH terbukti berjaya menyatukan umat Melayu Islam dari pelbagai latar belakang tanpa mengira kecenderungan politik. Seramai 350 orang termasuk aktivitis perkerisan, persilatan, perubatan tradisional, kebudayaan malah para pemimpin tareqat telah berkumpul untuk berkongsi rasa tentang nasib orang Melayu Islam akhir zaman. Atas keyakinan ini acara susulan yang diberi nama “Wacana Ilmu Memartabatkan Kembali Kegemilangan Tamadun Melayu” pun diatur untuk dibuat Ahad 25 Nov di Melaka. Ia mendapat sokongan Persatuan Guru-Guru Beladiri Melaka (MAGMA Melaka) dan Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI). Tidak lama kemudian kerajaan negeri Melaka pun turut serta sebagai penganjur bersama malah memasukkan acara ke dalam kalendar tahunan program negeri. Sambil itu sudah ada pihak menjemput agar acara HIKMAH diadakan di Perak dan Kelantan.


Permintaan-permintaan sebegitu terus muncul daripada pihak-pihak lain lalu kami cuba mencari cara untuk melaksanakannya. Begitulah kami di HIKMAH. Siapa sangka acara yang asalnya mahu diadakan sekali sahaja iaitu pada 4 November 2012 boleh bercambah menjadi satu siri jelajah yang ditunggu-tunggu umat Melayu dan Islam serata Malaysia malah dari negara-negara jiran seperti Singapura dan Indonesia? Untuk melihat atau menelaah apa yang telah dibuat HIKMAH sila klik pautan berikut...




















Thursday, September 12, 2019

Ulasan dan liputan daripada orang Aceh tentang acara ke-21 HIKMAH

Salam  awal pagi Khamis 12 Muharram. Merujuk pada artikel Rancangan perjalanan pusing utara Sumatera dan Aceh berserta acara HIKMAH ke-21 di kompleks makam Sultan Malikus Saleh 1 Muharram 1441 yang dipersembahkan setengah tahun lalu diikuti artikel Bersedia untuk acara ke-21 HIKMAH di Kompleks Makam Sultan Malikus Saleh 1 September 2019 setengah bulan lalu. Sukacita dimaklumkan bahawa perjalanan yang dimaksudkan juga acara sudah berjaya dilaksanakan dalam tempoh pengembaraan Rabu 28 Ogos sehingga Rabu 4 September 2019. Satu artikel 'pembuka' bertajuk Perjalanan pusing Aceh dan utara Sumatera - Satu pengenalan ringkas selepas tamat pengembaraan telah dipersembahkan di blogspot  CATATAN SI MERAH SILU 6 hari lalu. Selepas itu akan menyusul artikel demi artikel di blogspot tersebut untuk berkongsikan perkembangan pengembaraan daripada hari ke hari.

Kalau berdasarkan susunan menurut waktu atau kronologi masuk penceritaan hari ke-5 yang akan dibuat entah bila baru saya akan berkongsi cerita baru di blogspot HIKMAH. Ini disebabkan pada hari ke-5 itulah acara ke-21 HIKMAH mula dilangsungkan di Kompleks Makam Sultan Malikus Saleh dekat Geudong, Lhokseumawe sebelum dilanjutkan ke Banda Aceh 6 jam perjalanan ke utara dan barat pada hari ke-7. Namun apabila difikirkan bahawa komponen acara di makam juga di bandar telah diberikan liputan oleh media-media di Aceh selain kawan-kawan sana membuat video ada eloknya ia dikumpulkan lalu dipaparkan di sini terlebih dahulu. Ini adalah antara yang dapat dikongsikan sebelum sampai giliran saya sendiri bercakap dan mengulas tentang acara...



MPA Gelar Diskusi Sejarah di Museum Mapesa


Acara Majelis Silaturrahmi Penggiat Sejarah dan Budaya Aceh - Malaysia di sekretariat bersama Mapesa dan Pedir Museum, Punge Blang Cut, Banda Aceh, Selasa 3 September 2019. @Jamaluddin...


Banda Aceh - Majelis Pariwisata Aceh (MPA) berkolaborasi dengan komunitas penggiat sejarah lainnya seperti Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa), Pedir Museum, Sicupak, Hikmah (Himpunan Kedaulatan Melayu Islam Akhir Zaman ) Malaysia mengadakan acara dengan tajuk " Majelis Silaturrahim Penggiat Sejarah dan Budaya Aceh - Malaysia" pada Selasa (3/9) di sekretariat bersama Mapesa dan Pedir Museum, Punge Blang Cut, Kota Banda Aceh.

Acara diisi oleh penggiat sejarah dari Malaysia, Mohd. Fahrul Radzi Mohammad Sapiee yang merupakan Presiden Hikmah dan Penulis buku berpetualang ke Aceh.

Beliau menyampaikan materi tentang Jejak Aceh di Semenanjung Tanah Melayu Masykur Syafruddin, Direktur Pedir Museum dengan judul materi "Nisan, Manuskrip dan Numismatik sebagai Sumber Penulisan Sejarah Aceh".

Sejumlah penggiat sejarah dan budaya lainnya seperti Tarmizi A Hamid dan Ayah Panton juga turut hadir dalam acara yang penuh kehangatan dan persaudaraan ini.

Radzi Sapiee menyampaikan, hubungan Aceh dan Malaysia telah terbina sejak ratusan tahun silam. Di antaranya terbukti dengan ditemukannya nisan -nisan khas Aceh yang berusia ratusan Tahun diberbagai wilayah di Malaysia.

"Dan jika dilihat dari arus perjalanan pelaut Arab ke nusantara, wilayah pertama yang dilalui di nusantara adalah Aceh. Maka Aceh adalah wilayah pertama yang dilalui dalam misi penyebaran Islam di nusantara. Jika dilihat dari peta, tidak mungkin sampai ke Barus terlebih dahulu. Walaupun bukti artefak Islam yang dinyatalan tertua ditemukan di Barus, ini tidak berarti di Aceh tidak ada artefak yang lebih tua dari Barus. Saya yakin banyak artefak Aceh yang lebih tua, saat ini belum ditemukan dan kita melihat sejarah bukan  dengan artefak sahaja, tapi juga dengan berbagai bukti lain," kata Radzi Sapiee yang pernah mengenyam pendidikan Sarjana bidang Matematika di Universitas terkemuka di London Inggris.

Sedangkan Masykur Syafruddin, seorang kolektor muda mengupas hasil koleksinya terutama koleksi koin kuno. Koin kuno koleksi tertua yang dimiliki oleh Pedir Museum dan ditemukan di Aceh adalah koin era khalifah Abbasiyah yang ditemukan di Pasai, dicetak di Samarkand pada 202 tahun hijriah, 1200 tahun lalu.

"Kami juga menemukan koin mata uang Italia ( 1575 ), mata uang perak dari Romawi timur, Byzantium abad ke 12 yang ditemukan Juli 2016, koin masa Sultan Delhi, Muhammad bin Tughlaq, dan yang termasuk langka adalah koin masa kesultanan Utsmani, Sultan Suleyman Al Kanuni, sang penguasa dua pertiga dunia, ditemukan di pidie 2016. Sayangnya koin-koin langka ini tidak dimiliki oleh Museum Aceh dan saya mendata ada 7000 keping koin yang ditemukan beberapa tahun lalu ditemukan di Gampong Pande, tidak tahu dijual kemana. Bahkan koin-koin masa Turki Utsmani sampai saat ini tidak berhasil diselamatkan dan dimiliki oleh pemerintah. Semoga kajian Numismatik terus dilanjutkan oleh teman-teman yang lain. Sejarah Aceh saat ini terus tergerus karena minim yang peduli," harap Masykur yang masih berstatus mahasiswa Program Sejarah Kebudayaan Islam di UIN Arraniry.

Kegiatan ini diharapkan dapat membuka kembali cahaya ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang sejarah dan budaya Aceh.

Mujiburrizal selaku koordinator acara mengatakan, untuk lebih memperkenalkan diantara Jejak Tamaddun Islam Aceh yang dapat dilihat di Museum Pedir dan Mapesa kepada masyarakat. Ke depan acara kajian peradaban ini semoga dapat diselenggarakan sebulan sekali di sekretariat bersama Mapesa dan Pedir Museum yang kini memiliki lebih 1000 koleksi benda bersejarah yang sekaligus juga sebagai daya tarik pariwisata Aceh di Dunia Internasional.[] Rilis

Editor: portalsatu.com


----------------------


Seperti kebiasaan pada setiap acara HIKMAH juga komponen-komponennya, setiap penganjur tempatan berhak untuk memberikan tajuk atau menamakan acara mengikut kesukaan mereka. Sambil itu kami memanggil atau menggelar mengikut kesukaan kami dengan mengatasnamakan HIKMAH.

Kelihatan di atas laporan berita on-line tentang acara di Banda Aceh yang saya sedari telah dipaparkan untuk bacaan umum pada awal pagi Khamis 5 September. Ini adalah selepas kami selamat kembali ke Malaysia pada malam sebelumnya. Rupa-rupanya ia telah dipaparkan pada jam 12 hari Rabu 4 September. Ia adalah perkongsian terawal dari Aceh dapat kami temui di mana-mana.

Berita ini disediakan oleh wartawan on-line bernama Jamaluddin, juga dikenali sebagai Lodin. Lihat  paparan aslinya di sini. Beliau turut menulis 2 berita berkaitan tentang acara. Lihat sini dan sini.

Lodin juga ada pergi ke kompleks makam Sultan Malikus Saleh untuk bahagian awal acara  tetapi sampai lewat iaitu selepas Zohor bersama sahabat kami, saudara Fadhlan Amini. Walaupun terlepas acara pagi mereka dapat mengikuti aktiviti petang ke Museum Samudera Pasai dan Monumen Islam Samudera Pasai yang terletak berdekatan. Berikut adalah video yang dikongsikan Lodin pada petang Khamis 5 September diikuti sambungan yang dikongsikan lewat malam itu...










Esoknya petang sebelum solat Jumaat saya baru tersedar bahawa acara di Banda Aceh juga telah masuk ke dalam satu stesyen tv tempatan. Berikut adalah video laporan tersebut...





Seorang sahabat Aceh yang rumahnya boleh dikatakan terletak bersebelahan dengan kompleks makam Ratu Nurul Aqla @ Malikul Danir, sekitar 20 km ke timur makam Sultan Malikus Saleh menyuakan video berikut 2 jam selepas itu...




Itu adalah pada hari Jumaat malam Sabtu 6 September. Beberapa jam tadi hari Rabu malam Khamis 11 September sahabat bernama Teuku Saif itu memaparkan video sambungan ini pula...




Ini sahaja perkongsian daripada kawan-kawan Aceh yang dapat ditemui setakat ini. Berdasarkan jangkaan kekerapan saya akan menulis tentang pengembaraan sambil 'disepit' pelbagai hal dan kesibukan lain laporan atau ulasan daripada saya sendiri tentang acara cuma mungkin akan dikongsikan antara setengah bulan hingga sebulan daripada sekarang. Sekian wassalam.


Monday, August 26, 2019

Bersedia untuk acara ke-21 HIKMAH di Kompleks Makam Sultan Malikus Saleh 1 September 2019

Salam semua wahai para pembaca yang dimuliakan. Pada 10 Mac iaitu lima bulan setengah lalu saya ada membuat artikel bertajuk Rancangan perjalanan pusing utara Sumatera dan Aceh berserta acara HIKMAH ke-21 di kompleks makam Sultan Malikus Saleh 1 Muharram 1441 lalu memberitahu tentang rancangan mahu menghidupkan kembali HIKMAH dengan mengadakan acara ke-21 kami di Kompleks Makam Sultan Malikus Saleh pada hari Ahad 1 September 2019 bersamaan Muharram 1441 Hijriah. Sejak itu saya tidak memberikan apa-apa maklumat baru tentang majlis di mana-mana. Saya lebih banyak menyebut tentang perjalanan pusing Sumatera yang mana acara HIKMAH terkandung dalam rancangan besar perjalanan.

Sekarang biar dikongsikan maklumat terkini dalam satu artikel. Sebelum itu biar dikongsikan perkembangan berkenaan  yang telah diceritakan di Facebook...




Adapun rancangan perjalanan yang diceritakan dalam artikel Rancangan perjalanan pusing utara Sumatera dan Aceh berserta acara HIKMAH ke-21 di kompleks makam Sultan Malikus Saleh 1 Muharram 1441 dibuat berdasarkan saya dan keluarga akan sampai ke Banda Aceh dengan penerbangan AirAsia dari Kuala Lumpur jam 10 pagi. Penyertaan pun dibuka kepada sesiapa yang berminat untuk bersama. Lebih 4 bulan kemudian saya menerima makluman kami telah dialihkan ke penerbangan jam 2 petang. Dengan itu sedikit perubahan harus. 

Pada 26 Julai maklumat berkenaan dikongsikan di FB berserta panggilan akhir untuk mereka yang berminat untuk turut serta. Begini bunyinya :-



RANCANGAN PERJALANAN PUSING UTARA SUMATERA DAN ACARA HIKMAH DI ACEH 28 OGOS - 4 SEPT 2019 - LAST CALL UNTUK SESIAPA YANG MAHU TURUT SERTA

Salam pagi Jumaat 23 Zulkaedah. Sudah lama saya tidak memberikan perhatian pada perkara atas kerana kesibukan dengan hal-hal lain terutama penerbitan buku terbaru saya "KENANGAN KEMBARA SOLO HITCHHIKE EROPAH TAHUN 1995". Sekarang sudah sampai masanya perkara mula dimuktamadkan. Ini kerana perjalanan yang dimaksudkan akan dilaksanakan sebulan sahaja lagi daripada sekarang.

Merujuk pada artikel berkenaan yang dipersembahkan dalam blogspot CATATAN SI MERAH SILU lebih 4 bulan lalu. Adapun selepas ia diwar-warkan di Facebook saya telah menerima sejumlah maklum balas daripada mereka yang berminat untuk pergi. Namun setakat ini yang saya tahu cuma 5 orang dewasa sahaja telah memberikan komitmen dengan membeli sendiri tiket penerbangan ke Banda Aceh bagi tarikh 28 Ogos dan kembali 4 Sept. Ini supaya dapat bersama saya, isteri dan 2 orang anak kecil mengembara.

Untuk makluman logistik perjalanan akan dibuat secara ad hoc berdasarkan jumlah penyertaan untuk menjimatkan belanja, bukan berdasarkan kebiasaan harga yang ditetapkan oleh travel agent. Saya akan meminta kerjasama kawan-kawan di Aceh untuk itu. Jumlah penyertaan akan menentukan jenis dan jumlah kenderaan mahu digunakan selain hal-hal lain seperti penginapan dan makan minum. Dianggarkan tidak lebih daripada RM2,000 satu kepala (tak campur tiket penerbangan) insyaallah bagi keseluruhan tempoh 8 hari 7 malam...

Cadangan saya kalau boleh biarlah dapat menumpang bermalam di sekolah-sekolah pondok, masjid dan sebagainya. Ini kerana selain mahu menjimatkan belanja kami dijangka sampai ke tempat-tempat rehat pada waktu malam, esoknya awal pagi terus bergerak untuk menyambung perjalanan kecuali pada 2 atau 3 hari terakhir di Banda Aceh.

Dengan itu saya menyeru. Sesiapa lagi yang berhajat mahu menyertai kembara sila beli sendiri tiket pergi balik kapal terbang ke Banda Aceh yang dapat meliputi tarikh perjalanan 28 Ogos hingga 4 Sept. Selepas itu beritahu saya melalui WhatsApp 013-3082131 supaya dapat bersama mengatur perkara.

Saya akan membuka ruang penyertaan ini selama 2 minggu. Pada Jumaat 2 minggu akan datang iaitu pada 9 Ogos 2019 bersamaan 8 Zulkaedah 1440 Hijriah ia akan ditutup supaya logistik perjalanan dapat dimuktamadkan. Sebagai mengakhiri pengumuman biar disenaraikan tujuan-tujuan utama pengembaraan dibuat...


1) Ziarah ke Barus di mana dikatakan terdapat makam pendakwah Islam dengan tarikh meninggal dunia 43 Hijriah bersamaan 664 Masihi (Kerajaan Srivijaya diketahui mula berkuasa di Sumatera pada tahun 683 M iaitu dekat 20 tahun kemudian). Dikatakan Barus telah dikenali dunia sejak zaman Mesir purba kerana terdapat bekalan kapur (dipanggil kapur barus) terbaik untuk pelbagai kegunaan terutama menguruskan mayat.

2) Ziarah ke tempat-tempat bersejarah terutama melibatkan kedatangan Islam sepanjang pantai barat utara Pulau Sumatera menghala ke Barus di selatan membawa ke pantai timur menghala ke Banda Aceh di utara. Banyak persinggahan akan dilakukan. Maka perjalanan agak lasak dan kurang rehat tapi harus amat memuaskan.

3) Iktikaf di kompleks makam Sultan Sayyid Maulana Abdul Aziz Shah di Perlak pada malam 1 Muharram 1441 Hijriah (siangnya Sabtu 31 Ogos). Dikatakan Kesultanan Islam Perlak diasaskan dengan naiknya sultan berketurunan Rasulullah SAW ini pada 1 Muharram 225 Hijriah iaitu 1216 tahun Qamariah yang lampau (berdasarkan bulan menurut kalender Islam)! Ini diperkirakan bersamaan tahun 840 Masihi iaitu 1159 tahun Syamsiah lalu (menurut matahari seperti digunakan kalendar Barat) .

4) Mengadakan satu acara berupa wacana ilmu atas nama HIKMAH (Himpunan Kedaulatan Melayu Islam Akhir Zaman) di kompleks makam Sultan Malikus Salleh iaitu pengasas kerajaan Samudera-Pasai pada pagi 1 Muharram 1441 bersamaan Ahad 1 Sept 2019. Acara dikira terus berjalan membawa ke Banda Aceh di mana kawan-kawan di sana sedia menyambut dengan majlis yang lebih teratur.


Nota : Tiket ke Banda Aceh sebenarnya dibeli untuk penerbangan pagi jam 10. Tetapi baru beberapa hari lalu AirAsia memaklumkan penerbangan pagi dibatalkan lalu penumpang dialih masuk ke penerbangan jam 2 petang. Harap maklum.



Lima hari kemudian dikongsikan rancangan terbaru perjalanan dari hari ke hari :-



TERBARU TENTANG RANCANGAN PERJALANAN PUSING ACEH/SUMATERA UTARA 28 OGOS - 4 SEPT

Salam awal pagi Rabu 28 Zulkaedah. Merujuk kepada rancangan tersebut yang ada diwar-warkan di Facebook 2-3 kali. Tergerak saya untuk berkongsi rancangan terbaru berdasarkan perubahan jadual penerbangan (KL-Banda Aceh Rabu 28 Ogos diubah oleh Air Asia dari 10 pagi ke 2 petang) juga persetujuan ahli rombongan (setakat ini 7 dewasa 2 kanak-kanak) untuk bermalam di masjid atau sekolah pondok.


1. Hari pertama Rabu 28 Ogos

Banda Aceh - Meulaboh (238 km)

- Menginap di masjid raya yang merupakan satu-satunya bangunan tidak diranapkan Tsunami 26 Disember 2006. Menggantikan rancangan asal Banda Aceh - Tapak Tuan (434 km)

2. Hari kedua Khamis 29 Ogos

Meulaboh - Barus (484 km)

- Persinggahan akan dibuat di Labuhan Haji diikuti Tapak Tuan kemudian makam Sheikh Hamzah Fansuri di Singkil. Bermalam Jumaat di sebuah masjid di Barus (belum dapat ilham yang mana)

3. Hari ketiga Jumaat 30 Ogos

Barus - Deli Tua (dekat Medan, 326 km)

- Persinggahan akan dibuat di Kompleks Makam Mahligai Barus di mana dikatakan terdapat makam pendakwah Islam dengan tarikh meninggal dunia 43 Hijriah (sekitar 664 Masihi). Akan masuk ke Pulau Samosir di Danau Toba sebelum naik ke Berastagi kemudian bermalam di Masjid as-Syakirin, Deli Tua

4. Hari keempat Sabtu 31 Ogos

Deli Tua - Makam Sultan Sayid Maulana Abdul Aziz Syah, Perlak (265 km)

Singgah ke Medan untuk lawatan ke Istana Maimoon dan masjid lama Manshun, singgah ke Masjid Azizi di Tanjung Pura, Langkat lalu masuk ke Kampung Besilam (pusat Tariqat Naqsyabandiah-Khalidiah di bawah almarhum Sheikh Abdul Wahab), lalu di Pengkalan Brandan diikuti Temiang dan Langsa. Kalau ada kesempatan masa masuk ke Pengkalan Susu untuk melihat Teluk Haru, Pulau Kampai dan Pulau Sembilan (tambah 25 km pergi balik simpang).

Ini adalah laluan yang diceritakan dalam siri trilogi novel "Berpetulang ke Aceh" tulisan dan terbitan saya 2006-2007. Bermalam 1 Muharram 1441 Hijriah di kompleks makam Sultan Sayid Maulana Abdul Aziz Syah yang merajai Kesultanan Perlak bermula 1 Muharram 224 Hijriah lebih 1,000 tahun lalu.

5. Hari kelima Ahad 1 September 2019 bersamaan siang 1 Muharram 1441 Hijriah

Makam Sultan Abdul Aziz - Makam Sultan Malikus Saleh di Geudong, Lhokseumawe (130 km)

Dibuat persinggahan ke makam Ratu Nurul Aqla sebelum ke makam Sultan Malikus Saleh di mana acara ke-21 HIKMAH (Himpunan Kedaulatan Melayu Islam) bermula selewatnya jam 10 pagi insyaallah. Boleh jadi bermalam di sekolah pondok berdekatan, boleh jadi teruskan perjalanan menghala ke Banda Aceh bergantung pada gerak dan keadaan,

6. Hari keenam Isnin 2 September

Menuju ke Banda Aceh.

Harus ada persinggahan ke makam Tun Sri Lanang di Semerlanga dan makam Daeng Mansur selepas Sigli di Pidie (Pedir). Boleh jadi bermalam di Banda Aceh, boleh jadi di satu lokasi sebelum itu.

7. Hari ketujuh Selasa 3 September

Acara ke-21 HIKMAH disambung di Banda Aceh.

Masa akan ditetapkan selewatnya waktu malam. Acara HIKMAH kali ini dikira berlangsung daripada 1 hingga 3 September, dari makam Sultan Malikus Saleh membawa ke Banda Aceh (284 km). Bermalam di Banda Aceh.

8. Hari kelapan Rabu 4 September

Santai di Banda Aceh sebelum kembali ke Malaysia dengan penerbangan jam 4 petang


Sesiapa yang mahu mengikuti pengembaraan ini boleh membeli sendiri tiket pergi ke Banda Aceh 28 Ogos dan kembali 4 Sept kemudian WhatsApp saya di nombor 013-3082131. Perjalanan dibuat dengan konsep memudahkan belanja secara berkongsi kesemuanya, bukan ikut harga biasa travel agent. Insyaallah tak sampai RM2,000 satu kepala (tidak termasuk tiket penerbangan).

Atau anda boleh atur sendiri perjalanan pergi balik dan lain-lain lalu bertemu kami di makam Sultan Malikus Saleh 284 km ke tenggara Banda Aceh jam 10 pagi Ahad 1 September untuk menyertai acara ke-21 HIKMAH. Tak pun jumpa sahaja di Banda Aceh Selasa 3 September kerana acara disambung di sana selewatnya pada waktu malam...



Pada 10 Ogos satu update ringkas dibuat di FB seperti berikut :-


PANGGILAN KEMBARA KE-9 DI ACEH SEMAKIN KUAT

Salam 1 Ogos 2019 bersamaan 29 Zulkaedah 1440 Hijriah. Alhamdulillah baru siap membuat rangka penuh perjalanan pusing Aceh dan utara Sumatera yang dijadualkan berlangsung 28 Ogos hingga 4 September insyaallah. Banyak tempat-tempat baru yang belum pernah saya sendiri sampai akan dijejaki. Ia akan menjadi lawatan saya yang ke-9 ke Aceh, sejak pertama kali sampai ketika darurat perang masih berlangsung awal 2004.

Semoga akan menerima pembukaan yang memuktamadkan makna hidup ini dan arah tujuan. Semoga semua yang turut bersama juga mendapat berkat...


STANDBY - Acara ke-21 HIKMAH akan bermula di kompleks makam Sultan Malikus Saleh jam 10 pagi Ahad 1 September bersamaan 1 Muharram 1441 Hijriah dan berlanjutan sehingga ke Banda Aceh hari Selasa 3 September...



Ini diikuti update berikut 5 Ogos :-


PELUANG MENGEMBARA LEBIH 2,000 KM JEJAK SEJARAH PUSING ACEH DAN UTARA SUMATERA 8 HARI 7 MALAM DENGAN BELANJA KURANG RM1,500 SEORANG

Salam malam 6 Zulkaedah, Merujuk kepada posting berkenaan sebelum ini . Setelah mengambil kira pelbagai faktor saya dapati kos membuat pengembaraan selama 8 hari 7 malam ini boleh dijimatkan sehingga menjadi kurang RM1,500 seorang. Ini berdasarkan 4 malam pertama menginap di masjid dan sebagainya, 3 malam terakhir baru menginap di hotel selesa pada kadar RM150 semalam satu bilik berkongsi 2-3 orang. Syaratnya dapatkan satu kumpulan 5-7 orang supaya boleh berkongsi satu kereta Innova sepanjang tempoh 8 hari 7 malam itu dan tiket pergi balik kapal terbang beli sendiri.

Yang penting pada jam 2.40 petang Rabu 28 Ogos sudah berada di lapangan terbang Banda Aceh untuk bersama rombongan. Dan sedia bersama sehingga Rabu 4 September. Sila berikan maklum balas sesiapa yang berminat. Untuk makluman tawaran ini akan ditutup apabila masuk jam 12 tengah malam Sabtu 8 Ogos ini. Rujuk posting lama untuk butiran rancangan pengembaraan...




Sehari sebelum hari raya Aidil Adha saya menulis lagi tentang perjalanan dan acara :-


PERUTUSAN HARI ARAFAH 9 ZULHIJJAH TENTANG KEMBARA PUSING ACEH DAN UTARA SUMATERA JUGA ACARA KE-21 HIKMAH

Salam hari Arafah 9 Zulhijjah 1440 Hijriah. Merujuk pada update saya 2 minggu lalu tentang kembara pusing Aceh dan utara Sumatera 28 Ogos - 4 September 2019. Setelah menunggu beberapa lama didapati tidak ada penyertaan baru. Malah terpaksa dikurangkan pula satu tempat apabila ada peserta mendapat panggilan untuk mendaftar masuk ke universiti pada hari Isnin 2 September 2019.

Dengan itu bolehlah dimuktamadkan bahawa kembara ini akan disertai 6 orang dewasa dan 2 orang kanak-kanak sahaja dari Malaysia. Namun masih ada ruang untuk sesiapa yang berminat menyertai separuh akhir kembara, cuma kena atur sendiri perjalanan.

Untuk makluman, separuh awal kembara merujuk pada permulaan dari Banda Aceh petang Rabu 28 Ogos menuju selatan ke Lamno diikuti Meulaboh. Khamis 29 Ogos bergerak ke selatan lagi menuju ke Labuhan Haji, Tapak Tuan, Singkil dan Barus. Jumaat 30 Ogos baru menaik ke utara melalui Danau Toba, Berastagi dan Deli Tua. Ketika rakyat di Malaysia sedang menyambut hari kemerdekaan Sabtu 31 Ogos kami pula akan berangkat ke Medan, Binjai, Langkat, Pengkalan Brandan, Temiang dan Langsa, Malam itu yang sudah masuk tarikh 1 Muharram 1441 Hijriah kami harus sampai ke Perlak untuk bermalam di kompleks makam Sultan Sayyid Maulana Abdul Aziz, seorang Ahlu Bait keturunan Nabi Muhammad SAW yang merajai Kesultanan Perlak bermula 1 Muharram 225 Hijriah lebih 1,000 tahun lalu!

Separuh akhir perjalanan dikira bermula daripada situ terutama pada siang Ahad 1 September. Kami dijadualkan bergerak menziarahi makam Ratu Nur'Ila di Minye Tujuh (yang katanya berkuasa ke atas Kedah dan Pasai, laut dan darat lebih 600 tahun lalu) sebelum ke kompleks makam Sultan Malikus Saleh, raja yang mengasaskan kerajaan Samudera-Pasai hampir 800 tahun lalu. Di situlah acara ke-21 HIKMAH (Himpunan Kedaulatan Melayu Islam Akhir Zaman) akan bermula, Acara berupa perkongsian ilmu tentang sejarah dan jati diri Melayu Islam ini akan berpanjangan sehingga ke Banda Aceh Selasa 3 September.

Sesiapa yang berminat boleh sahaja bergerak sendiri berjumpa kami di Perlak malam 1 Muharram itu atau bertemu di makam Sultan Malikus Saleh pada siangnya. Tak pun terus bertemu di Banda Aceh hari Selasa di suatu tempat yang akan diumumkan nanti. Kawan-kawan kami di Aceh boleh membantu perjalanan anda. Boleh hubungi melalui duta Muzium Aceh, Ustaz Mujiburrizal. Tinggalkan pesanan dalam FB beliau.

Pengembaraan ini ada mengulangi sedikit laluan yang diambil saya, isteri dan seorang anak tahun 2011 untuk menunjukkan tempat-tempat yang diceritakan dalam siri trilogi novel "BERPETUALANG KE ACEH" (terbit 2006-2007). Ini adalah berdasarkan kembara solo saya ke Aceh ketika darurat perang masih melanda Januari 2004. Dipautkan cerita perjalanan kami anak beranak pada 9 Zulhijjah iaitu tepat 8 tahun Hijriah yang lalu (rujuk Jejak "Berpetualang ke Aceh" : Keluar pulau untuk ke Medan...



Sebelas hari kemudian iaitu pada 21 Ogos berlaku suatu perkembangan tidak menyenangkan melibatkan suasana sosio-politik negara. Ini menyebabkan saya menulis hal berikut dalam konteks yang terkait dengan perjalanan pusing Aceh dan utara Sumatera yang tentunya terkait dengan acara ke-21 HIKMAH :-



TENTANG BENDERA MALAYSIA TERBALIK - PANDUAN TINDAKAN DARI KERAJAAN AHLUL BAIT PERLAK?

Entah kenapa susah sungguh hendak tidur malam ini walau kepala dan tubuh badan sangat penat. Asyik terfikir akan hal bendera Malaysia terbalik ditunjukkan berlaku di banyak tempat oleh ramai di media sosial. Ada yang kata ini isyarat ada pihak dah gatal sangat hendak menjual. Namun ada yang berkata kalau betul pun menjual janganlah termakan umpan. Kelak keluarga kita binasa tak kiralah betapa hebat pun kita sendiri mampu berperang dan bersilat.

Saya pun berkira-kira apakah sikap yang perlu diambil kalau benar pihak anti-Melayu dan anti-Islam itu sudah kemaruk sangat hendak menjual? Melihat pada keadaan dan tempoh masa kelihatan hal bendera terbalik ini ditujukan pada sambutan hari kebangsaan akan datang 31 Ogos 2019. Sedangkan pada tarikh tersebut saya dan keluarga dijadualkan mengambil jalan darat dari Medan ke Perlak. Ia adalah sebahagian daripada pengembaraan pusing Aceh dan utara Sumatera 28 Ogos hingga 4 September yang sudah dirancang sejak beberapa bulan lalu.

Kami bercadang mahu menginap di Perlak malam itu kerana menurut sejarah Kesultanan Perlak yang diterajui Ahlul Bait keturunan Nabi Muhammad SAW ia mula diasaskan pada tanggal 1 Muharram 225 Hijrah iaitu sekitar tahun 840 Masihi. Menurut kalendar esoknya siang Ahad 1 September 2019 pula adalah bersamaan 1 Muharram 1441 Hijriah. Sebetulnya masuk sahaja Maghrib malam sebelumnya iaitu pada 31 Ogos sudah masuk 1 Muharram kerana kalendar Islam memulakan tarikh baru apabila malam menjelang. Memandangkan pada ketika itu sudah masuk tahun baru 1441 Hijriah yang nombornya terasa unik lagi bermakna saya pun teringin sangat untuk menginap malam tersebut di Perlak.

Pada tarikh 1 Muharram 1441 itu genaplah 1216 tahun Hijriah Kesultanan Perlak diasaskan (1216 - 225 iaitu tahun pengasasan). Sebelum ini saya tidak memikirkan apakah ada apa-apa perkara signifikan tentang ulang tahun ke-1216 (menurut kiraan Hijriah, kalau kiraan Gregorian Barat ia adalah bersamaan 1,178.5 tahun) Kesultanan Perlak itu. Tetapi disebabkan hal bendera Malaysia terbalik baru saya mencuba memikirkannya.

Terus nampak dengan mudah 1216 boleh dibahagikan dengan 4. Ini kerana nombor 12 di hadapan (merujuk kepada 1200) boleh dibahagi dengan 4, begitu juga 16 di belakang.

Hasilnya adalah 304. Ini pun terus nampak boleh dibahagi dengan 4 jadi 76.

76 pun boleh bahagi 4. Jadi 19...

Nombor 19 yang merupakan nombor ganjil ini sendiri ada signifikannya. Mereka yang rajin mengkaji mesti pernah dengar tentang kod 19 untuk menafsirkan makna tersembunyi di sebalik ayat-ayat Al-Quran.

Kepala pun mula ligat berfikir mencari makna dan kaitan.

1216 = 304 x 4 = 76 x 4 x 4 = 19 x 4 x 4 x 4 = 19 x 64

Hati terdetik untuk melihat apakah terjemahan Surah 19 : 64 (Surah ke-19 ayat ke-64). Ini yang saya jumpa :-

Dan (berkatalah malaikat): "Kami tidak turun dari semasa ke semasa melainkan dengan perintah Tuhanmu (wahai Muhammad); Dia lah jua yang menguasai serta mentadbirkan apa yang di hadapan kita dan apa yang di belakang kita serta apa yang di antara itu; dan tiadalah Tuhanmu itu lupa."

Rasa macam tak jelas. Saya pun melihat pada terjemahan ayat seterusnya :-

"Tuhan yang mencipta dan mentadbirkan langit dan bumi serta segala yang ada di antara keduanya; oleh itu, sembahlah engkau akan Dia dan bersabarlah dengan tekun tetap dalam beribadat kepadaNya; adakah engkau mengetahui sesiapapun yang senama dan sebanding denganNya?"

Baru rasa jelas apakah sikap atau pendirian yang perlu diambil berkenaan hal bendera Malaysia yang terbalik itu.

Sekadar menambah - Sekali lagi, apabila masuk waktu Maghrib 31 Ogos akan datang ini maka masuklah tahun baru Islam bertarikh 1 Muharram 1441 Hijriah.

Ini boleh juga ditulis begini - 1.1.1441 - Ada 2 kali nombor 4 dan 4 kali nombor 1.

Jadi siapa yang takut nombor 4 fikir betul-betul sebelum memanjangkan dan memperhebatkan provokasi. Kami anak Melayu Islam sejati tak takut mati. Yang kami takut cuma mati tanpa menyediakan amal secukupnya untuk akhirat.

Gambar hiasan : Lawatan ke makam Sultan Sayyid Maulana Abdul Aziz Shah di Perlak tahun 2011. Saya dan isteri sudah 5 kali menziarahi makam tersebut...




Sekarang baru boleh dikongsikan perkembangan paling baru tentang acara. Kelihatan di atas poster acara yang baru dibuat petang tadi. Tema acara iaitu "Panggilan Wasiat Nabi" baru difikirkan ketika membuat poster. Ini merujuk kepada pesanan yang menurut kitab Hikayat Raja-raja Pasai ada dibuat oleh Nabi Muhammad SAW membawa kepada pengIslaman kerajaan Samudera, raja dan rakyatnya.

Raja Samudera bernama Merah Silu ditabalkan menurut cara Islam menggunakan alatan dari Mekah lalu memakai nama baru Sultan Malikus Saleh. Hikayat menyebut sebelum itu Nabi Muhammad SAW ada bersabda :-


“Sepeninggal aku telah wafat kelak,
akan muncul sebuah negeri di bawah angin, Samudera namanya.”
“Apabila terdengar kamu nama negeri itu, maka suruhlah sebuah bahtera untuk membawa perkakas dan alat kerajaan ke negeri itu,
serta kamu Islamkan sekalian isi negeri itu,
serta ajar mereka mengucap dua kalimah syahadat.
Kerana dalam negeri itu kelak banyak orang yang akan menjadi wali Allah.”
“Tetapi semasa kamu hendak pergi ke negeri itu,
hendaklah kamu singgah mengambil seorang fakir di negeri Mengiri,
bawalah fakir itu bersama-sama belayar ke negeri Samudera itu.”


Walaupun ada yang mempertikaikannya saya percaya sabda Nabi ini benar-benar wujud. Saya percaya ia adalah wasiat yang disampaikan kepada orang-orang tertentu daripada zaman ke zaman sehinggalah dimasukkan ke dalam hikayat, bukan ajaran umum yang disampaikan kepada semua lalu dapat dikumpulkan ke dalam kitab Sahih Bukhari dan sebagainya. Apapun acara HIKMAH kali ini dibuat dalam keadaan yang boleh dikatakan 100% ad hoc - nak jadi bagaimana ikutlah apa yang Allah SWT nak bahagi nanti. Biasanya saya akan mula mengatur pengisian dan tajuk-tajuk perkongsian ilmu untuk acara paling lewat 3 minggu sebelum ia berlangsung. Kali ini tema majlis pun baru dicipta tadi. Sedangkan acara akan berlangsung cuma 6 hari lagi.

Dengan ini cukuplah perkongsian terbaru tentang acara. Pada sesiapa yang hendak menyertai belum terlewat untuk bersama. Anda boleh mengatur sendiri perjalanan ke lokasi majlis iaitu Kompleks Makam Sultan Malikus Saleh di Geudong, Lhokseumawe dari Banda Aceh di barat-laut lokasi atau Medan di selatannya. Yang penting pada jam 9 pagi Ahad 1 September bersamaan 1 Muharram sudah sampai ke lokasi.

Tak pun terus ke Banda Aceh untuk bahagian majlis yang dipanjangkan hingga 3 September. Lokasi tepat akan diumumkan nanti. Saya percaya walaupun ia diadakan secara ad hoc acara ke-21 HIKMAH yang juga merupakan kali ke-3 HIKMAH diadakan di Aceh (rujuk Acara kesepuluh HIKMAH di Muzium Aceh, Banda Aceh, Aceh 29 Mac 2014 diikuti Acara kedua puluh HIKMAH di Rumah Cut Nyak Dhien, Aceh 19 Mac 2017) tetap akan berjaya mencapai matlamatnya. Ia berkaitan satu ramalan yang katanya pernah disampaikan seorang ulamak besar bertaraf wali. Wassalam.



Friday, June 14, 2019

Hari-hari awal bulan Syawal tahun 1440 Hijriah dan usaha memartabatkan busana tradisional Melayu

Ini ada satu artikel yang baru dikongsikan di blogspot CATATAN SI MERAH SILU sebelum solat Jumaat tadi. Biarlah ia disalin untuk menjadi artikel ke-363 di blogspot HIKMAH ini.


---------


Salam tengah hari Jumaat 10 Syawal, Jumaat kedua bagi bulan Syawal tahun ini. Setelah mempersembahkan artikel Berbuka 27 Ramadhan bersama kawan-kawan lama Sains Johor 11 hari lalu baru hendak berkata sesuatu tentang raya.



Harus tidak terlambat untuk saya mengucapkan selamat hari raya Aidil Fitri. maaf zahir batin kepada para pembaca sekalian. Kelihatan adalah 'kad raya' yang dibuat secara ad hoc pada hari Isnin malam Selasa 3 Jun. Ketika itu tinggal kurang 24 jam sahaja lagi sebelum tarikh 1 Syawal menjelma iaitu apabila masuk waktu Maghrib Selasa malam Rabu 4 Jun. Ketika membuat 'kad' dalam tempoh sekitar 10-20 minit keluar pengumuman tentang tarikh jatuhnya 1 Syawal dalam kaca televisyen oleh Penyimpan Mohor Besar Raja-raja. Gambar diambil daripada artikel tentang raya tahun lepas iaitu Ringkasan sambutan raya Aidil Fitri/bulan Syawal tahun 2018.



Ini adalah gambar pertama diambil pada pagi raya 1 Syawal bersamaan 5 Jun 2019. Lokasinya adalah di  halaman masjid jamek Muar. Lupa pula apakah diambil sebelum atau selepas solat raya.



Yang ni confirm selepas solat raya. Bersolat di bahagian belakang masjid terjumpa sejumlah anak jati Muar yang turut berpakaian busana tradisional Melayu.


Ini dalam dewan utama masjid. Ia adalah tempat saya bergolek-golek zaman bebudak. Selepas itu ada bergambar bersama anak-anak laki-laki saya juga beberapa orang aktivis busana tradisional Muar di halaman masjid. Tapi nak cari gambar tak jumpa pula di mana. Hari tu mudah aje jumpa terpapar dalam WhatsApp.


Ini gambar bersama isteri dan anak-anak di hadapan rumah orang tua saya di Kampung Temiang, Muar.


Ini pula gambar bersama isteri di rumah seorang seorang saudara di  kampung beliau di Tanjung Sepat, Selangor. Gambar diambil pada hari raya ke-3 iaitu pada 7 Jun sejurus sebelum menunaikan solat Jumaat.


Gambar di tempat sama tetapi dalam keadaan berdiri dikongsikan dalam Facebook pada malam itu jam 21:21. Ini dicetuskan oleh satu perkembangan baru melibatkan usaha buku terbaru saya. Lihat teks yang dikongsikan bersama gambar :-


ANTARA RAYA DAN BUKU - SILA DAPATKANNYA...

Salam malam 4 Syawal. Setelah melupakan hal buku terbaru merangkap buku ke-13 saya, "KENANGAN KEMBARA SOLO HITCHIKE EROPAH TAHUN 1995" untuk memberi laluan kepada sambutan hari raya tiba-tiba ada orang bertanya tentangnya petang tadi. Dah masuk Isyak baru tersedar beliau telah membuat bayaran sebelum Maghrib. Ia menjadi tempahan berbayar yang ke-44 setakat ini.

Dengan itu tergerak saya untuk berkongsi kembali teks update ketika tempahan mula dibuka lebih kurang sebulan lalu. Ia mengandungi maklumat ringkas tentang buku dan isi. Insyaallah buku akan keluar dari kilang 2 minggu lagi. Untuk membuat tempahan sila ikut panduan pada penghujung teks.

Nota : Gambar hiasan diambil dekat kampung isteri di Tanjung Sepat, Selangor siang tadi... 😀


PRE-ORDER DIBUKA UNTUK BUKU ‘PERTAMA’ YANG MENJADI BUKU KE-13 RADZI SAPIEE @ MERAH SILU

Salam semua. Akhirnya, setelah dekat 10 bulan berhempas-pulas menulis dan mengatur isi sebaiknya baru boleh dinyatakan ini. Dengan lafaz bismillah baru boleh dibuka pre-order untuk buku terbaru saya “KENANGAN KEMBARA SOLO HITCHHIKE EROPAH TAHUN 1995”. Adapun penulisannya pernah dimulakan dalam bahasa Inggeris ketika saya mula bekerja sebagai wartawan akhbar The New Straits Times hampir penghujung tahun 1996. Tetapi usaha dilupakan setelah semua fail berkenaan hilang akibat masalah pada sistem Intranet pejabat awal tahun 1997.

Usaha dihidupkan kembali tetapi dalam bahasa Melayu apabila mendapat mimpi untuk melakukannya Julai tahun 2018. Maka diimbau kembali pengalaman pengembaraan lebih 20 tahun lalu daripada kaca mata diri yang telah jauh berbeza berbanding dahulu. Dengan ini buku yang asalnya harus menjadi buku pertama saya akan muncul sebagai buku ke-13 iaitu sejak buku pertama “BERPETUALANG KE ACEH : MENCARI DIRI DAN ERTI” terbit Jun 2006. Sasaran saya buku terbaru ini dapat keluar dari kilang cetak pada Jun 2019 iaitu tepat 13 tahun selepas buku BERPETUALANG itu terbit. Sedikit maklumat ringkas tentang buku : -


TAJUK : KENANGAN KEMBARA SOLO HITCHHIKE EROPAH TAHUN 1995

RINGKASAN ISI : Mengimbau kembali pengembaraan seorang diri pada musim panas tahun 1995 menaiki pelbagai jenis kenderaan tidur luar merata meliputi 11 buah negara di Eropah dalam tempoh 33 hari dengan belanja kurang RM1,000. Pengembaraan dilakukan setelah tamat pengajian ijazah muda dalam bidang matematik di University College of London. Sebelum ke tanah besar Eropah saya ada membuat persediaan tidur lasak dengan menjadi gelandangan ataupun homeless di tengah kota London selama 3 bulan.

NEGARA DILIPUTI :

1. Belanda
2. Jerman
3. Republik Czech
4. Slovakia
5. Austria
6. Switzerland
7. Liechtenstein
8. Itali
9. Monaco
10. Peranchis
11. Belgium

JARAK DILIPUTI: Sekitar 5,900 km, 1,240 km dengan pengangkutan awam, 230 km berjalan kaki. Selain itu iaitu lebih 4,500 km adalah dengan hitchhike iaitu menahan lalu menumpang kenderaan orang.

CARA MENGINAP : Mana sahaja dapat dengan menggunakan sleeping bag. Antaranya dalam sampan orang di Amsterdam, tepi lebuh raya di sempadan Belanda-Jerman, bawah jambatan di Frankfurt, atas meja di luar restoran Dubi, Republik Czech, hadapan Kedutaan Peranchis di Bratislava bersama ahli Greenpeace, dalam kolong di tepi sungai Little Danube di Vienna dan dalam terowong kereta di Sisteron, Peranchis

PENGALAMAN LUAR BIASA : Tertinggal bas di Breda, Belanda. Gitar dicuri di Amsterdam. Barangan dicuri di Prague, Republik Czech. Berhadapan dengan 3 orang warga tempatan, seorang mendakwa memiliki pistol Colt.45. Berhadapan 40 orang peninju dalam bas ke Brno mahu meminta wang. Bergelut dengan 2 orang inspektor tiket di Bratislava, Slovakia. Berselisih dengan sekumpulan lelaki berwajah Arab, seorang membawa pisau daging berdarah-darah di Genoa, Itali. Masuk lokap satu malam di Lyon, Peranchis akibat disyaki pengganas Islam.

JUMLAH MUKA SURAT : 224 berwarna saiz 6 x 9 inci termasuk gambar-gambar lama saya, gambar-gambar tempat dan lakaran peta perjalanan.

Mereka yang berminat sila ikut panduan berikut. Bayaran pre-order ini mahu digunakan untuk kos mencetak buku. Nama-nama mereka yang tersenarai sebagai pembayar akan diabadikan dalam blogspot CATATAN SI MERAH SILU.


CARA MEMBUAT PEMBAYARAN PRE-ORDER

Pilih salah satu harga berikut :-

1. RM55 senaskah sahaja bagi yang hendak mengambil buku terus daripada saya. Boleh berjumpa di rumah saya di Bandar Sungai Buaya, Rawang atau di Kuala Lumpur (selalunya saya berada di tempat belajar di ISTAC iaitu Institut Antarabangsa Tamadun dan Pemikiran Islam di Bukit Tunku sepanjang hari Isnin)

2. RM62.90 (senaskah buku RM55 + RM7.90 pakej Poslaju) untuk pembaca di Semenanjung

3. RM67.50 (senaskah buku RM55 + RM12.50 pakej Poslaju) untuk pembaca di Sabah dan Sarawak.

Sila masukkan jumlah berkenaan ke dalam akaun saya :-

AFFIN ISLAMIC BANK : 20-530-011171-1

Atas nama: Mohd Fahrulradzi bin Mohamad Sapiee

Atau akaun isteri :-

MAYBANK - 112110854698

Atas nama: Nor Afidah binti Yusof

Selepas itu pm bukti pembayaran ke Facebook atau Whatsapp nombor saya 013-3082131. Sertakan sekali alamat pos dan nombor telefon untuk memudahkan urusan Poslaju



Dalam tempoh waktu itu iaitu hari raya pertama hingga hari raya ke-3 boleh dilihat banyak gambar anak-anak Melayu di merata Malaysia bergambar memakai busana tradisional Melayu penuh bertanjak, bersampin, berkeris dan bercapal melalui FB dan WA. Usaha memartabatkan pakaian tradisional bangsa itu mencapai satu tahap baru apabila universiti pun masuk mempromosi sama. Kelihatan di atas gambar artikel berkenaan yang keluar dalam surat khabar Harian Metro untuk hari Isnin 3 Jun iaitu 2 hari sebelum raya. Namun salinan digital muka surat yang mengandungi artikel telah diwar-warkan dalam beberapa kumpulan WA terutama yang melibatkan persilatan pada malam sebelumnya lalu saya pun memanjangkannya ke FB berserta teks berikut :-



TU DIA - UNIVERSITI PUN DAH MASUK BERKEMPEN MENGHIDUPKAN PEMAKAIAN BUSANA TRADISIONAL MELAYU

Alhamdulillah. Dulu kami para penggiat seni dan warisan bergerak berkempen sendiri untuk menghidupkan kembali, mendaulatkan juga membiasakan pemakaian busana tradisional Melayu, bertanjak berkeris bagai termasuk semasa menyambut Hari Raya Aidilfitri atau awal bulan Syawal. Kini ATMA atau Institut Alam dan Tamadun Melayu di UKM (Universiti Kebangsaan Malaysia) pula bersedia untuk bergerak di barisan hadapan memimpin inisiatif serupa pada skala yang lebih besar. Syukur usaha-usaha terdahulu tidak sia-sia. Semoga ini akan mengangkat semangat kedaulatan dan ketamadunan Melayu ke mercu kejayaan tertinggi sesuai dengan bayangan-bayangan yang menyatakan ada kemungkinan bangsa kita ini akan memimpin kebangkitan Daulah Islamiyah akhir zaman...



Namun di sebalik kemeriahan itu wujud pula suara-suara sumbang yang mengkritik lonjakan pemakaian busana tradisional yang berlaku pada musim raya ini. Masalahnya mereka yang mengkritik itu juga termasuk dalam kalangan para aktivis dan pengamal tetapi berselisih dengan para aktivis dan pengamal lain. Setelah ini berlanjutan buat beberapa hari saya pun tergerak untuk menyatakan sesuatu. Pada 9 Jun Ahad malam Isnin diletakkanlah dalam FB pautan bagi artikel Pemerhatian terhadap perkembangan pemakaian busana tradisional Melayu - Bibit-bibit awal sekitar tahun 2012 di blogspot Himpunan Kedaulatan Melayu Islam Akhir Zaman (HIKMAH) . Ia menerbitkan gambar atas lalu ditambah teks berikut  :-


MELURUSKAN HAL PERKEMBANGAN PEMAKAIAN BUSANA TRADISIONAL MELAYU PADA ZAMAN MODEN - DARI SEBELUM TAHUN 2006 MEMBAWA KE AWAL 2013...

Salam malam 6 Syawal. Melihat pada perkembangan pemakaian busana tradisional Melayu terutama tanjak yang sangat memberangsangkan pada musim raya kali ini namun ada pula yang mempersoalkan bab adab pemakaian seolah-olah mereka paling baik dan berhak menterjemahkan perkara tergerak saya untuk berkongsi pemerhatian sendiri dalam hal ini. Ia pernah dipersembahkan sebagai satu pembentangan pada acara ke-18 HIKMAH di Muzium Negara, Kuala Lumpur 22 Oktober 2016. Untuk perkongsian dalam blogspot isi pembentangan telah dipecahkan kepada 3 bahagian. Ini bahagian pertama.


Petang Selasa 11 Jun pernyataan disambung dengan memautkan artikel Pemerhatian terhadap perkembangan pemakaian busana tradisional Melayu - Gerakan yang berkembang ke merata Semenanjung membawa luar negara ke Aceh. Keluarlah gambar yang kelihatan lalu ditambah teks berikut :-


MELURUSKAN HAL PERKEMBANGAN PEMAKAIAN BUSANA TRADISIONAL MELAYU - AWAL 2013 HINGGA PERTENGAHAN 2015...

Salam petang 7 Syawal. Berbalik pada perkembangan pemakaian busana tradisional Melayu terutama tanjak yang sangat memberangsangkan pada musim raya kali ini namun ada yang mempersoalkan bab adab pemakaian seolah-olah mereka paling baik dan berhak menterjemahkan perkara. Percaya atau tidak gerakan anak Melayu di Malaysia bermula di Lembah Klang malah menjadi ikutan sehingga menjalar ke beberapa tempat di Indonesia termasuk di Aceh. Diakui ada yang terlebih-lebih menggayakan busana sehingga kelihatan "bersultan di mata, beraja di hati". Tetapi dalam membuat 'teguran' janganlah sampai boleh mematikan semangat mereka yang baru berjinak-jinak dengan dunia ini. Biarlah berhemah lalu dapat membantu perkembangan minat bukan membantutkannya.

Melihat kepada cara sesetengah orang 'menegur' itu kelihatan mereka seperti berhasad dengki dengan orang-orang yang lebih dikenali dan diakui dalam bidang ini. Kelihatan mereka yang 'menegur' itu bukan jujur mahu menegur tetapi melepaskan geram kerana mereka sendiri tidak diangkat sebagai pakar rujuk busana tradisional Melayu walau pernah termasuk dalam kalangan mereka yang terawal menghidupkanya kembali pada zaman moden ini. Sekarang biar disambung pemerhatian saya sendiri dalam hal ini seperti pernah dibentangkan pada acara ke-18 HIKMAH di Muzium Negara, Kuala Lumpur 22 Oktober 2016. Ini adalah bahagian ke-2 daripada isi pembentangan yang dipecah 3 untuk perkongsian dalam blogspot.



Lewat malam itu pula tergerak untuk berkongsi gambar ini berserta teks berikut. Cerita tentangnya boleh dirujuk dalam artikel Panggilan Pasir Salak - Bersama Raja Muda Perak diikuti Panggilan Pasir Salak - Bertandang ke rumah Tok Sago :-


BERSANGKA BAIK DAN BERBUDI PEKERTI DALAM MELESTARIKAN PEMAKAIAN BUSANA TRADISIONAL MELAYU...

Pada saya kalau kita berlapang dada kita akan seronok melihat semakin ramai anak Melayu mahu berbusana tradisional walaupun cara pemakaian tidak lengkap, ada kecacatan dan sebagainya. Biar datang minat dahulu kemudian siapa yang tahu tu boleh le bantu perbetulkan. Jangan jadi macam syaitan yang berbisik kepada manusia, selagi belum lengkap cara mengamati setiap rukun solat atau selagi belum 'mengenal' Allah SWT maka tak sah solat. Begitu juga kalau belum ikhlas, ada yang kata baik tak payah solat.

Kaedah beramal yang saya diajar oleh orang tua-tua adalah teruskan bersolat walaupun tetap banyak kecatatan. Jangan nak tunggu cukup segala syarat baru boleh bersolat. Kalau tunggu cam tu sampai bila le tak bersolat jawabnya.

Pandangan saya mudah. Kalau hati kita lurus mau meraikan maka kalau tak enak dipandang pun ada je cara baik nak sampaikan teguran dan pembetulan. Tapi kalau dah cara tu macam mengejek-ngejek, mengherdik je memanjang? Apatah lagi bila yang disindir adalah orang-orang tertentu yang bagi kami yang sudah lama mengikuti perkembangan tahu akibat berlaku perselisihan dalam persatuan dan pergerakan? Jangan salahkan kalau ada orang kata kamu tu sebenarnya dengki orang tak angkat kamu sebagai tempat rujuk. Cukup.


Pagi Khamis 13 Jun iaitu semalam gerak perkongsian ini dilengkapkan dengan memautkan artikel Pemerhatian terhadap perkembangan pemakaian busana tradisional Melayu - Melangkaui sempadan politik demi penyatuan Melayu akhir zaman. Keluarlah gambar seperti di atas lalu ditambah teks berikut :-


APABILA PEMAKAIAN BUSANA TRADISIONAL MELAYU MELANGKAUI SEMPADAN IDEOLOGI POLITIK - TITIK PENTING YANG MEMBAWA KEPADA LONJAKAN PEMAKAIAN BERMULA MUSIM RAYA TAHUN 2016...

Salam pagi 9 Syawal. Merujuk kepada perkongsian-perkongsian sebelum ini yang mengenengahkan pemerhatian saya terhadap perkembangan pemakaian busana tradisonal Melayu seperti pernah dibentangkan pada acara ke-18 HIKMAH di Muzium Negara, Kuala Lumpur 22 Oktober 2016. Dipersembahkan bahagian ke-3 dan terakhir daripada isi pembentangan yang dipecah 3 untuk perkongsian dalam blogspot. Dalam bahagian ini ditunjukkan satu titik penting perkembangan yang pada saya sangat penting dalam melestarikan pemakaian busana tradisional. Ini adalah apabila satu parti politik yang terkenal bergerak atas nama agama mengadakan satu majlis penting dengan ramai pemimpinnya berbusana penuh, bertanjak, bersampin, berkeris dan bercapal.

Sebelum itu wujud stigma dan persepsi buruk yang menggambarkan bahawa semua pengamal busana tradisional Melayu (konon) adalah penyokong satu parti politik lain yang berjuang atas nama bangsa. Ini kerana parti ini memakai lambang keris sedangkan keris adalah aksesori yang sangat penting dalam pemakaian busana tradisional Melayu. Dengan terzahirnya parti atas nama agama memakai busana serupa saya melihat stigma ini akhirnya terbubar. Ini membawa kepada lonjakan pemakaian busana tradisional yang kelihatan nyata pada pagi raya 1 Syawal dan hari-hari seterusnya pada tahun itu...



Semua artikel yang dipautkan tadi boleh dirujuk dalam artikel lama Acara kelapan belas HIKMAH di Muzium Negara, Kuala Lumpur 22 Oktober 2016. Ini kerana ia merupakan bahagian daripada pembentangan yang dibuat pada majlis tersebut. Untuk sesiapa yang belum tahu atau terlepas pandang HIKMAH merupakan singkatan bagi Himpunan Kedaulatan Melayu Islam Akhir Zaman. Ini adalah satu kumpulan longgar para aktivis kedaulatan Melayu Islam terutama dalam bidang sejarah yang saya asaskan pada Jumaat malam Sabtu, 12 Oktober 2012 untuk mengadakan majlis berupa wacana ilmu tentang Melayu.

Rujuk latar belakang kami dan penubuhan juga aktiviti di blogspot Himpunan Kedaulatan Melayu Islam Akhir Zaman (HIKMAH). Di atas adalah gambar daripada hari raya pertama tahun 2015. Ia adalah kali pertama saya, isteri dan anak-anak menyambut hari raya dengan berbusana tradisional Melayu walaupun sudah biasa berpakaian begitu sejak penghujung tahun 2012. Ini disebabkan mahu menjaga hati ibu yang belum betul-betul dapat menerima saya berpakaian begitu. Rujuk artikel-artikel berikut :-

3. Sekitar sambutan Aidil Fitri tahun 2017 - Dah puas ziarah manusia mari 'ziarah' dinosaur pula...


Merujuk kembali pada pautan-pautan berikut :-


1. Pemerhatian terhadap perkembangan pemakaian busana tradisional Melayu - Bibit-bibit awal sekitar tahun 2012

2. Pemerhatian terhadap perkembangan pemakaian busana tradisional Melayu - Gerakan yang berkembang ke merata Semenanjung membawa luar negara ke Aceh

3. Pemerhatian terhadap perkembangan pemakaian busana tradisional Melayu - Melangkaui sempadan politik demi penyatuan Melayu akhir zaman


Ia menyorot perkembangan pemakaian busana tradisional Melayu sehingga hampir ke penghujung tahun 2016 sahaja kerana dipersembahkan di Muzium Negara pada Oktober tahun itu. Selepas beberapa lama saya kurang memberikan perhatian pada perkara kerana mahu merehatkan diri daripada aktiviti-aktiviti rasmi melibatkan busana juga silat. Ini berlaku selepas menganjurkan satu sahaja acara HIKMAH bagi tahun 2017. Lihat Acara kedua puluh HIKMAH di Rumah Cut Nyak Dhien, Aceh 19 Mac 2017.

Atas sebab tertentu saya telah memutuskan untuk tidak menganjurkan apa-apa lagi acara HIKMAH. Hampir pertengahahan 2018 baru dapat gerak dan rasa agar mengadakannnya di Aceh tapi tak tahu bila. Penghujung tahun pula dapat ilham bagi tarikh sesuai iaitu 1 Muharram 1441 Hijriah yang menurut kalendar adalah bersamaan 1 September 2019. Lihat Rancangan perjalanan pusing utara Sumatera dan Aceh berserta acara HIKMAH ke-21 di kompleks makam Sultan Malikus Saleh 1 Muharram 1441. Namun dalam tempoh masa 'rehat' itu saya tetap sentiasa berbusana tradisional di majlis. Antaranya adalah pada acara-acara tradisi anjuran pengarah filem terkenal saudara Mamat Khalid.


Sebelum membuat keputusan untuk 'berehat' Mamat pernah meminta saya untuk mengadakan satu acara HIKMAH di tempatnya iaitu Sarang Art Hub di Tanjung Malim. Itu yang membawa kepada penulisan artikel Cadangan acara HIKMAH di Sarang Art Hub dan lain-lain tempat - Langkah untuk mengintegrasikan diri lama yang keBaratan? awal tahun 2017. Ketika datang ke majlis tradisi pertama anjuran beliau saya masih bercadang untuk mengadakan acara di tempat tersebut. Itu sebab artikel berkenaan diberi tajuk Malam Anjung Tradisi di Sarang Art Hub - Satu langkah persediaan untuk menyambut HIKMAH di sana.

Mamat sedia mengaku bahawa beliau mula berminat dengan busana tradisional Melayu setelah mengenali dan mengikuti acara-acara HIKMAH. Pengaruh sebagai seorang pengarah selebriti membuka jalan untuk aktivis-aktivis lain meningkat naik sambil menarik minat golongan artis seperti Awie daripada kumpulan rock Wings mula membiasakan diri berbusana. Walaupun tidak mengadakan acara HIKMAH saya terus berjuang untuk memartabatkan pemakaian busana tradisional Melayu dengan memberikan tumpuan pada majlis-majlis ilmu melibatkan para cendekiawan dan akademik. Hasilnya? Kalau diperincikan nanti orang kata masuk bakul angkat diri sendiri. Cukuplah dikatakan kesannya sangat besar.

Cuma mereka yang mengikuti sejak daripada awal dengan jujur sahaja sedia mengakui peranan. Cuma mereka sahaja yang dapat melihat bagaimanakah keadaan ketika saya diikuti sekumpulan kecil aktivis sanggup berpakaian begini dalam majlis-majlis ilmu di universiti-universiti dan institusi-institusi setaraf yang mana kot dan blazer lebih dibanggakan sebagai lambang kedudukan orang berpelajaran. Bertanjak dan berkeris pula dianggap ketinggalan zaman dan pakaian orang kekampungan yang cuma tahu bersilat dan tercicir pelajaran. Sesungguhnya bukan senang hendak memecahkan stigma bahawa mereka yang datang berbusana tradisional Melayu ke majlis-majlis 'orang pandai' ini sekadar layak membuat persembahan silat atau jadi pengiring majlis.  Kecuali bila ada aktivis cukup yakin dan pintar untuk berhujah dan berbincang hal-hal ilmiah baik dalam bahasa Melayu juga dalam bahasa Inggeris yang sering dianggap sebagai ukuran orang 'pandai'...



Friday, April 26, 2019

Sidang menolak PPSMI bersama Profesor Awang Sariyan dan para pejuang bahasa

Merujuk kepada artikel Haul Tok Pulau Manis - Kemuncak zikir dan maulud Nisfu Sya'aban. Apabila diri yang hina dimuliakan seorang ulamak besar Tasawuf yang dipersembahkan awal pagi Khamis. Ini ada satu cerita yang boleh menjadi satu macam kesinambungan daripada majlis haul di Kampung Pulau Manis, Kuala Terengganu 19-20 April.


Petang Sabtu lepas 20 April 2019, ketika masih berada di majlis haul saya menerima WhatsApp daripada tokoh pejuang bahasa, Profesor Datuk Dr Awang Sariyan berbunyi begini :-


Pemakluman awal: Sidang media pembentangan hasil kajian penolakan PPSMI akan diadakan pada 23.4.19, Selasa, 12 tengah hari di Wisma Majlis Perundingan Melayu, Jalan Ledang, Kuala Lumpur. Mohon kehadiran pemimpin  semua badan pejuang bahasa dan pendidikan kebangsaan (persatuan dan institusi/agensi). Kehadiran individu pejuang turut dialu-alukan. Allahuakbar!


Untuk pengetahuan beliau adalah pensyarah saya di ISTAC (Institut Antarabangsa Pemikiran dan Dunia Islam) dalam subjek Tamadun Melayu Islam semester lalu. Turut diterima senarai berikut lalu beliau meminta saya memanjangkan dengan menambah nama :-


Senarai pejuang yang mengesahkan kehadiran dalam Sidang Media Pembentangan Laporan Kajian PPSMI, 23.4.19, pukul 12 tengah hari:

1. Prof. Emeritus Datuk Dr. Isahak Haron
2. Dato' Raof Husin
3. Dato' Dr.Hasan Mad
4. Awang Sariyan
5. Prof. Supyan Hussin
6. Puan Zaharah Sulaiman
7. Kamal Shukri Abdullah Sani
8. Dato' Ibrahim Ghafar
9. Zairudin Hashim
10.Cikgu Zai Mustafa
11.Cikgu Azmi Hamid/wakil TERAS
12.Wakil Utusan Melayu
13.Wakil Berita Harian
14.Wakil Harian Metro


Saya jawab : "Tak boleh janji Prof" memandangkan sedang berada jauh lebih 450 km dari rumah. Takut apabila kembali yang dijangka sampai lewat Ahad malam Isnin saya sudah terlalu penat lalu perlu berehat sepanjang hari. Kepenatan mungkin berlanjutan hingga keesokan harinya kerana saya harus memandu kereta lebih 1,000 km meliputi banyak tempat dalam keadaan sedang menunaikan puasa sunat setiap hari sejak masuk bulan Rejab. Beliau pun meminta agar dimewar-warkan majlis kepada para pejuang Melayu Islam yang lain.


Awang tahu saya adalah seorang aktivis kedaulatan Melayu Islam lalu memiliki ramai kenalan sealiran kerana pernah membuat satu kerta kerja ala-ala tesis lebih 6,000 perkataan tentang HIKMAH - Himpunan Kedaulatan Melayu Islam Akhir Zaman, Diberi tajuk "HIKMAH – Satu Gerakan Intelektual Melalui Jaringan Sosial Internet untuk Memartabatkan Agama, Bangsa dan Negara" ia dibuat sebagai assignment terakhir (lupa pula apakah perkataan Melayu untuk assignment.) untuk kelas beliau. Petang Isnin 22 April, setelah lebih 12 jam berada di rumah iaitu sekembalinya dari Terengganu baru terasa boleh menghadiri majlis pada tengah hari Selasa 23 April. Saya pun memberitahu beliau melalui WhatsApp. Diberi pula senarai terbaru penyertaan termasuk nama saya sambil diminta mendapatkan lagi penyertaan...


Senarai pejuang yang mengesahkan kehadiran dalam Sidang Media Pembentangan Laporan Kajian PPSMI, 23.4.19, pukul 12 tengah hari di Wisma MPM, Jalan Ledang, KL:

1. Prof. Emeritus Datuk Dr. Isahak Haron
2. Dato' Raof Husin
3. Dato' Dr.Hasan Mad, MPM
4. Prof. Datuk Dr. Awang Sariyan, PLM
5. Prof. Supyan Hussin, ATMA
6. Prof. Emeritus Dr. Abdullah Hassan, PPM
7. Datuk Zainal Abidin Borhan, GAPENA
8. Puan Zaharah Sulaiman
9. Kamal Shukri Abdullah Sani, PLM
10. Dr. Mohd. Saleeh Rahamad, PENA
11. Dato' Ibrahim Ghafar
12. Zairudin Hashim, ABIM
13. Cikgu Zai Mustafa, MAPPIM
14. Cikgu Azmi Hamid/wakil TERAS Pengupayaan Melayu
15. Anas Alif, GPMS
16. Wakil Utusan Melayu
17. Wakil Berita Harian
18. Wakil Harian Metro
19. Prof. Dato’ Ir. Dr. Wan Ramli Wan Daud, ASASI
20. Abdul Hakim Shahbuddin, GPTD
21. Datuk Nasarudin Hashim
22. Azril Mohd Amin, CENTHRA
23. Mohd Zuhdi Marsuki, Pusat Penyelidikan PAS
24. Dato' Rosli Yang Danian, Harmonis Perak
25. Mohd. Fauzi Noordin
26. Prof. Emeritus Dato' Dr. Wan Hashim Wan Teh
27. Ramlee Wahab
28. Ruslan, MPM
29. Dato' Faridah Jabar, MPM
30.Wakil akhbar Harakah
31. Dato' Zain Hamzah
32. Letfee Ahmad
33. Dr. Fazilah Husin, NUMERA
34. Prof. Dr. Puteri Roslina (APM, UM)
35. Junaini Kasdan (ATMA/PAPTI)
36. Abd Ganing Laengkang (Pascasiswazah, APM, UM)
37. SN Dato' Dr. Ahmad Kamal Abdullah, NUMERA Malaysia
38. Zainal Mohd. Jais, KEMUDI
39. Dr. Hasrina Baharum (UPSI)
40. Prof.Madya Dr. Norliza Jamaluddin (UPSI)
41. Dr. Zaharani Ahmad
42. Prof. Dr. Zamri Mahamod (UKM)
43. Dr. Ibrahim Ahmad, Harmonis Perak
44. Romil Shamsudin
45. Radzi Sapiee @ Merah Silu



Masuk jam 5.30 petang beliau memberitahu sudah ada 60 orang  dalam senarai. Tengah hari Selasa saya pun bergegas ke lokasi majlis iaitu Wisma Majlis Perundingan Melayu (MPM). Bangunannya adalah sebuah bungalow lama yang dicat baru bersebelahan bangunan Parlimen Malaysia. Kelihatan dalam gambar Awang sebagai pengerusi sedang memperkenalkan majlis...


Secara rata diceritakan bagaimana program PPSMI iaitu Pengajaran dan Pembelajaran Sains dan Matematik Dalam Bahasa Inggeris itu merosakkan prestasi pelajar Melayu di sekolah. Diperkenalkan tahun 2003 oleh Kementerian Pendidikan atas dakwaan kononnya ia akan memperbaiki pemahaman pelajar tentang sains dan matematik sambil meningkatkan penguasaan bahasa Inggeris ia dikecam banyak pihak terutama mereka yang memperjuangkan kedaulatan bahasa Melayu. Mengikut kajian berdasarkan apa yang sebenarnya berlaku di sekolah-sekolah beberapa tahun selepas dilaksanakan ia didapati menyebabkan pencapaian pelajar dalam subjek-subjek tersebut menurun. Bahkan penguasaan bahasa Melayu mereka juga turun merosot sama kerana dipaksa menguasai subjek-subjek lain bukan dalam bahasa ibunda lalu mengabaikan bahasa sendiri di sekolah.

Disebabkan itu bermula tahun 2009 telah diadakan bantahan demi bantahan sehingga pelaksanaan PPSMI dibatalkan tahun 2012. Ketika itu bantahan serta hujahan berkenaan didengar lalu disokong oleh Timbalan Perdana Menteri ketika itu Tan Sri Muhyiddin Yassin. Kini setelah berlaku pertukaran kerajaan selepas Pilihan Raya Umum ke-14 pada 9 Mei tahun lepas PPSMI kembali menghantui. Ada ura-ura Perdana Menteri sekarang, Tun Dr Mahathir yang pernah menjadi PM ke-4 dahulu ingin menghidupkannya kembali.

Ditunjukkan satu kaji selidik ringkas berupa kutipan pendapat melalui Internet tentang PPSMI dalam tempoh beberapa hari sebelum majlis.


Seramai 2,844 orang daripada pelbagai peringkat umur dan latar belakang telah memberikan maklum balas.


Secara rata mereka menolak PPSMI...











Seterusnya naik Presiden Persatuan Pesara Pegawai Perkhidmatan Pendidikan, Datuk Abdul Rauf Hussin berkongsi kajian ilmiah yang dibuat atas nama Pemuafakatan Badan Ilmiah Nasional (PEMBINA).  Untuk pengetahuan beliau juga adalah pengarah eksekutif PEMBINA.


Kajian yang berada pada tangan beliau lalu ditunjukkan kepada hadirin itu cukup tebal, Seperti satu jilid ensaiklopedia atau satu tesis PhD rupanya. Salinan ringkasan kajian bertarikh Mac 2009 dengan 28 muka surat diberikan. Ia adalah hasil usahasama PEMBINA dengan 8 buah universiti :-

1. Universiti Putra Malaysia (UPM)
2. Universiti Perguruan Sultan Idris (UPSI)
3. Universiti Sains Malaysia (USM)
4. Universiti Utara Malaysia (UUM)
5. Universiti Teknologi Mara Malaysia (UiTM)
6. Universiti Teknologi Mara Sarawak (UiTM Sarawak)
7. Universiti Malaysia Sabah (UMS)
8. Universiti Teknologi Malaysia (UTM)

Kakitangan universiti dihantar membuat kajian bagi memerhatikan pembelajaran baik daripada segi cara cikgu mengajar juga penerimaan dan pemahaman murid kemudian dinilai hasil peperiksaan. Disebut bahawa kajian diadakan di 90 buah sekolah rendah kebangsaan termasuk 3 sekolah orang asli, 2 sekolah pendidikan khas, 7 sekolah Cina dan 5 sekolah Tamil. Turut dijadikan kajian 70 buah sekolah menengah termasuk 4 sekolah agama, 4 sekolah berasrama penuh, 4 sekolah teknik dan 5 buah Maktab Rendah Sains Mara (MRSM). Secara rata ia melibat 553 orang guru dan 15,089 pelajar.

Pada bahagian belakang dilampirkan salinan surat rasmi Profesor Diraja Ungku Aziz bertarikh 6 Mei 2009 menyokong laporan diikuti salinan rencana akhbar Berita Harian tentang laporan (tidak kelihatan tarikh).


Ringkasannya mudah. PPSMI adalah satu projek yang gagal lagi menyusahkan. Diberikan juga satu salinan 12 sebab kenapa ia tidak boleh diteruskan. Kajian inilah yang pernah dibawa kepada Muhyiddin lalu PPSMI akhirnya dibatalkan tahun 2012. Pada awal salinan dilampirkan salinan laporan akhbar Utusan Melayu hari Sabtu 23 Mei 2009 menunjukkan pertemuan Ungku Aziz, Tan Sri Ahmad Sarji, Datuk Abdullah Abdul Rahman dan Datuk Hassan Ahmad dengan Muhyiddin. Mereka datang atas nama Gagasan Veteran Malaysia untuk menyatakan penolakan terhadap PPSMI.


Presiden Akademi Sains Islam Malaysia, Profesor Datuk Ir. Wan Ramli Wan Daud pula berkongsi laporan prestasi pelajar akibat PPSMI berdasarkan penaksiran antarabangsa TIMMS dan PISA.



TIMSS adalah singkatan bagi perkataan Inggeris Trends in International Mathematics and Science Study. Saya terjemahkan sebagai "kebiasaan semasa dalam pengajian matematik dan sains antarabangsa". PISA pula singkatan bagi Programme for International Student Assessment - Program Penilaian untuk Pelajar Antarabangsa. Kedua-duanya merupakan program penilaian pelajar di beberapa buah negara yang dibuat oleh dua badan antarabangsa berlainan.


Ditunjukkan graf kajian TIMMS bagi Malaysia berbanding Singapura, Korea Selatan, Taiwan, Thailand dan Indonesia untuk subjek matematik. Didapati berlaku penurunan pencapaian yang jelas apabila PPSMI diperkenalkan pada tahun 2003 malah semakin menurun dan menurun. Selepas dibatalkan tahun 2012 baru pencapaian naik menuju pemulihan. Itupun belum lagi mencapai tahap sepertimana sebelum PPSMI diperkenalkan...


Begitu juga kajian TIMMS untuk bidang sains. Lihat sendiri graf dan rumusan.


Untuk PISA pula Malaysia mula menyertai kaji selidik ini pada tahun 2009 yang mana PPSMI sudah diperkenalkan. Lalu tidak dapat dibuat perbandingan dengan tahun-tahun sebelum itu. Kelihatan seperti ada peningkatan dalam bidang matematik. Tapi kadar peningkatan kelihatan serupa sahaja selepas PPSMI dibatalkan tahun 2012.


Ini pula kajian yang dibuat berdasarkan aliran. Kedua-dua aliran sains dan bukan sains diambil kira. Saya agak keliru membaca graf. Jadi ikut sahajalah rumusan bahawa pencapaian pelajar aliran sains tulen mendatar sekitar 30% pada zaman PPSMI dilaksanakan dan menjunam sekitar 20% pada 2016-2018 iaitu setelah ia dibatalkan tahun 2012.

Adakah ini bermakna pembatalan itu menjahanamkan?  Menurut Wan Ramli bukan. Walaupun PPSMI tidak lagi dilaksanakan ketika itu ia telah menimbulkan trauma yang berpanjangan. Pelajar melihat matapelajaran sains menjadi susah akibat PPSMI lalu terkesan walaupun ia tidak lagi dilaksanakan.



Tokoh pejuang bahasa Prof. Emeritus Datuk Dr. Isahak Haron turut memberikan pendapat sebagai orang lama yang dahulu pernah berusaha sama membantah sehingga pelaksanaan PPSMI dibatalkan. Pada beliau ia jelas merosakkan prestasi pelajar, bukan memajukan.


Hadirin lain pun secara rata sependapat.


Yang harus dipanjangkan adalah strategi bagaimana untuk memastikan ia tidak berulang juga menyekat apa-apa lagi cadangan pembelajaran yang boleh mensudutkan kedaulatan bahasa Melayu dan Dasar Pendidikan Kebangsaan yang menyatakan bahawa bahasa penghantar utama adalah bahasa Melayu.


Saya sendiri turut berkongsi pandangan dan memberikan maklum balas. Gambar ini dan selepasnya dihantar Awang kepada saya melalui WhatsApp.


Sesungguhnya PPSMI ini bukan sahaja isu yang boleh melemahkan pencapaian pelajar Melayu di sekolah. Dalam keadaan sekarang di mana jelas kumpulan-kumpulan bukan Melayu semakin rancak memperlekehkan kepentingan orang Melayu dan penggunaan bahasa Melayu ia seperti membantu serangan ideologi musuh untuk menjatuhkan orang Melayu secara keseluruhan.


Saya akhiri artikel ini dengan beberapa laporan akhbar daripada majlis menolak PPSMI. Semoga memberikan manfaat...






Oh. Baru teringat. Ketika menyemak kembali artikel ini baru tersedar. Rasanya elok disertakan sekali pernyataan rasmi oleh Awang pada majlis yang dibuat atas nama Persatuan Linguistik Malaysia. Saya ambil gambar kenyataan itu di rumah...


Sebetulnya kenyataan dicetak atas kertas berwarna merah jambu. Tapi saya ambil gambar di ruang tamu bawah lampu kuning. Nah. Dah jadi macam nak sama warna kuning kejinggaan dengan bangunan makam Tok Pulau Manis pula. Hmm... :]



PERKONGSIAN ILMU YANG TELAH DIBUAT HIKMAH SETAKAT INI

Ramai sudah sedia maklum bagaimana HIKMAH menggabungkan persembahan silat, budaya, pameran koleksi keris malah sesi berkuda juga memanah untuk memeriahkan acara. Namun teras utama acara tetap perkongsian ilmu yang dibuat dalam bentuk pembentangan seperti seminar sebelum diikuti sesi berkumpulan. Dengan ini biar dikongsikan tajuk-tajuk kertas kerja yang telah dibuat setakat ini...

“Suai Kenal HIKMAH” atau HIKMAH I di Yayasan Restu, Shah Alam 4 Nov 2012


1. Mata Wang Syariah dan Melayu : Penipuan dalam Kewangan dan Perlembagaan? – Amirul Haji Mohamad, jururunding utama AHM Creates, firma khidmat nasihat kewangan Islam. Penerbit dan hos rancangan “Islamic Finance” di Capital TV, UNIFI


2. Perlembagaan Negara dan Cabaran Terhadap Hak Melayu dan Institusi Beraja – Mohd Faizal Ahmad, peguambela dan peguamcara


3. Tujuh Wasiat Raja-raja Melayu – Shamsul Yunos , bekas wartawan Malay Mail


4. Faktor Sultan kepada Bangsa Melayu : Mesej untuk umat Melayu di Akhir Zaman – Sheikh Sidi Mohamed Zaid Dor, pengetua Madrasah Rasool-Ur-Rahmah, Behrang, pemimpin Tariqat Naqsyabandiah


5. Nasib orang Melayu di Singapura - Tengku Syawal, waris Sultan Ali ibni Sultan Hussein (Sultan Ali pernah bertakhta di Kesang, Johor, Sultan Hussein di Singapura abad ke 19 Masihi)


6. Ragam Hias Gunungan Mihrab dan Mimbar di Alam Melayu – Harleny Abd Arif, calon doktor falsafah seni Universiti Pendidikan Sultan Idris


7. “Berpetualang ke Aceh” : Satu Pengalaman Mencari Jati Diri Melayu – Radzi Sapiee, presiden dan pengasas HIKMAH, penulis trilogi novel “Berpetualang ke Aceh”


8. Wasiat Raja Haji Fi Sabilillah oleh waris dari Pulau Bentan, Raja Syukri


9. Keris ke arah Penyatuan Alam Melayu – Khairul Azhar Abdul Karim, YDP Persatuan Pusaka Perkerisan Kuala Lumpur


10. Ikonografi Zulfikar dalam Sejarah Hubungan Turki dan Nusantara – Mohd. Zahamri Nizar, aktivis Yayasan Restu


11. Dari Srivijaya ke Batu Bersurat Terengganu : Perjalanan Melayu Merentas Zaman Menggamit Peranan – Mohd Syukri Embong, YDP Persatuan Belia Waja Watan




“Wacana Ilmu Memartabatkan Kembali Kegemilangan Tamadun Melayu” atau HIKMAH II di Kolej Antarabangsa Yayasan Melaka 25 November 2012


1. Mata Wang Syariah dan Melayu : Penipuan dalam Kewangan dan Perlembagaan? – Amirul Haji Mohamad, jururunding utama AHM Creates, firma khidmat nasihat kewangan Islam. Penerbit dan hos rancangan “Islamic Finance” di Capital TV, UNIFI


2. Tujuh Wasiat Raja-raja Melayu – Shamsul Yunos , bekas wartawan Malay Mail


3. Faktor Sultan kepada Bangsa Melayu : Mesej untuk umat Melayu di Akhir Zaman – Sheikh Sidi Mohamed Zaid Dor, pengetua Madrasah Rasool-Ur-Rahmah, Behrang, pemimpin Tariqat Naqsyabandiah


4. Ragam Hias Gunungan Mihrab di Acheh dan Tanah Melayu (1600-1900) – Harleny Abd Arif, calon doktor falsafah seni Universiti Pendidikan Sultan


5. Busana tradisional Melayu sebagai Lambang Jiwa Merdeka – Tun Muhammad Farul, aktivis busana tradisi dan silat Melayu, wakil dari Istiadat Pewaris Penjurit Kepetangan Melayu


6. “Berpetualang ke Aceh” : Satu Pengalaman Mencari Jati Diri Melayu – Radzi Sapiee, presiden dan pengasas HIKMAH, penulis trilogi novel “Berpetualang ke Aceh”


7. Wasiat Raja Haji Fi Sabilillah oleh waris dari Pulau Bentan, Raja Syukri


8. Ancaman Terhadap Situs Bersejarah Kerajaan Lama Lamuri : Usaha untuk Memperkasakan sejarah Aceh yang hilang Melalui Pemeliharaan Makam-makam - wakil dari badan NGO Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh)


9. Ikonografi Zulfikar dalam Sejarah Hubungan Turki dan Nusantara – Mohd. Zahamri Nizar, aktivis Yayasan Restu


10. Panji-panji hitam dari Timur : Peranan bangsa Melayu Akhir Zaman – Radzi Sapiee, presiden dan pengasas HIKMAH, penulis trilogi novel “Berpetualang ke Aceh


“HIKMAH Berselawat : Menjejak Pendekar, Ahlul Bayt dan Mendaulat Sultan di tanah Gangga Negara” atau HIKMAH III di Marina Hall, Lumut 27 Januari 2013


1. Alter Terahsia Melayu – Srikandi, pengkaji sejarah Melayu dan seorang penulis blog yang agak misteri tetapi diminati ramai terutama melalui blog Mistisfiles


2. Mata Wang Syariah dan Melayu : Penipuan dalam Kewangan dan Perlembagaan? – Amirul Haji Mohamad, jururunding utama AHM Creates, firma khidmat nasihat kewangan Islam. Penerbit dan hos rancangan “Islamic Finance” di Capital TV, UNIFI


3. Ahlul Bayt Rasulullah SAW & Warisan Melayu – Tun Suzana Othman, penulis buku tentang Ahlul Bait dan raja-raja Melayu juga ulamak silam


4. Siapakah itu Melayu? – Tuan Haji Halim Bashah, penulis, pengumpul koleksi sejarah negeri Kelantan, wakil Perbadanan Perpustakaan Awam Negeri Kelantan


5. Ahlul Bayt sebagai Perisai Agama,Bangsa dan Negara - Habib Abu Aswad ibn Zakaria Al-Kubra, mudir Madrasah Ahbabul Mustafa, Kelantan


6. Nasib orang Melayu di Singapura - Tengku Syawal, waris utama Sultan Ali ibni Sultan Hussein (Sultan Ali pernah bertakhta di Kesang, Johor, Sultan Hussein di Singapura abad ke 19 Masihi)


7. Wasiat Raja Haji Fi Sabilillah oleh waris dari Pulau Bentan, Raja Syukri


8. Sajak Melayu – Tun Muhammad Farul, aktivis busana tradisi dan silat Melayu, wakil dari Istiadat Pewaris Penjurit Kepetangan Melayu


9. Kebangkitan Panji-panji Hitam Melalui Pembatalan Sihir Perjanjian Pangkor - Radzi Sapiee, presiden dan pengasas HIKMAH, penulis trilogi novel “Berpetualang ke Aceh”

HIKMAH IV : Silaturrahim Bumi Serambi Mekah di Akademi Nik Rashiddin, Kandis, Bachok 16 Mac 2013


1. Motif Langkasuka Dalam Kesenian Melayu – Puan Rosnawati, pemilik ANR


2. Gunungan Mihrab dan Mimbar Pantai Timur : Stailisasi Motif dalam Ragam Hias – Puan Harleny Abd Arif, calon PhD seni UPSI


3. 'Seni Khat Melayu': Penerokaan Identiti Dalam Manuskrip dan Seni Ukir Melayu - Mohd. Zahamri Nizar, aktivis seni rupa Melayu dari Pertubuhan Pengkarya Seni Kuala Lumpur dan Selangor


4. Sejarah dan Tempat-tempat Signifikan di Kelantan : Langkasuka, Empayar Chermin hingga ke Zaman Raja K'Umar – Mohammad Iddham, Kelab Pencinta Sejarah Kelantan


5. Sejarah Kelantan Membawa ke Dinasti Raja-raja Jembal dan Kisah Puteri Saadong - Tuan Haji Ismail Sulaiman, presiden Persatuan Pencinta Sejarah Puteri Saadong


6. Sheikh Ahmad al-Fathoni dan para Ulamak Pantai Timur : Kenapa Kelantan dipanggil Bumi Serambi Mekah? - Ustaz Zaidi Hassan dari Masjid Salor, Pasir Mas, Kelantan


7. Apa yang Perlu dilakukan untuk Menjayakan Perjuangan Dinar Dirham dan Muamalatnya : Peranan HIKMAH dan Kaitan dengan Cap Mohor Diraja - Ustaz Muhammad Hassan Zaid bin Ramli dari As-Saff Madani Islamic City


8. Praktik Dinar dan Dirham untuk Kesultanan dan Umat Melayu – Mazli Alias dari kumpulan Murabbitun dan World Islamic Mint


9. Dari Langkasuka ke Serambi Mekah : Kedaulatan Melayu dan Islam – Radzi Sapiee, presiden dan pengasas HIKMAH


“HIKMAH Isra’ dan Mi’raj : Jejak Sufi dalam Tamadun Melayu” atau HIKMAH V di Masjid Makmur Losong, Kuala Terengganu 5-8 Jun 2013


1. Aplikasi Dinar dan Dirham sebagai Wadah Pendaulatan Islam sedunia : Pasar Terbuka Masjid - Puan Norbaini Hassan, Perunding Dinar & Dirham


2. Hubungan Syarif Al-Baghdadi dan Tok Pulau Manis dengan Islam di Nusantara - Fokus Salasilah Tok Syeikh Pulau Manis - Cikgu Najib Badruddin, Pengkaji sejarah dan waris Tok Pulau Manis dari Kelantan


3. Antara Muhammad al-Baghdadi dan Muhammad Nafs al-Zakiyah : Pengalaman Peribadi Menjejak Makna hingga ke Terengganu - Radzi Sapiee, pengasas dan presiden HIKMAH


4. Dinar dan Dirham dan Kesultanan Masa Kini – Umar Azmon Amir Hassan, Penggiat Dinar dn Dirham kumpulan Murabbitun dan World Islamic Mint


5. Tasawuf, Tamadun Melayu dan Khilafat Uthmaniyyah – Halit Osmanli An-Naqsyabandi, Sheikh tariqat Naqsyabandiah-Haqqani


6. TokKu Paloh dari aspek Sosiologi Ekonomi Masyarakat - Razi Yaakob, Pensyarah UnisZa (Universiti Sultan Zainal Abidin, Kuala Terengganu)


7. Tradisi Gemilang: Seni Mushaf Terengganu Abad ke-19 -Mohd Zahamri Nizar, Aktivis seni rupa Melayu


8. Jejak dan Legasi Tok Ku Paloh dan Keluarga - Dr Syed Lutfi bin Syed Umar, Pensyarah Unisza


9. Batu Bersurat Terengganu, Mesej untuk Umat Akhir Zaman - Rashid Hamat, Ketua Bahagian Sejarah, Muzium Negeri Terengganu


HIKMAH Merdeka Raya atau HIKMAH VI di Galeri Shah Alam 7 September 2013


1. Hasil kerja seni sebagai Wadah Memartabatkan Melayu dan Islam - Mohd. Zahamri Nizar, aktivis seni rupa Melayu dari Pertubuhan Pengkarya Seni Kuala Lumpur dan Selangor


2. Mengenali dan Menjejaki Perjalanan Bangsa Melayu dan Asal Usulnya – Puan Zaharah Sulaiman, penyelidik dan penulis dari Ikatan Arkeologi Malaysia


3. Tujuh Wasiat Raja-raja Melayu - Shamsul Yunos, bekas wartawan Malay Mail dan aktivis media bebas


4. Pernyataan HIKMAH Melaka sebagai blue print kebangkitan Ummah - Radzi Sapiee, presiden dan pengasas HIKMAH

Festival Ketamadunan Dan Adat Istiadat Melayu Mukmin Nusantara atau HIKMAH VII di Hang Tuah Center, Kampung Duyong, Melaka 30 November 2013


1. Zuriat Nabi SAW dan Islam di Nusantara : Sejarah, Hijrah dan Hikmah - Tun Suzana Othman, penulis buku“Ahlul Bait dan Raja-Raja Melayu” dan Ustaz Mohd Iqbal Parjin dari KEMUDI ((Pertubuhan Kesedaran Melayu Dan Islam)


2. Fiqh al Adat Muhakkamah dalam Hikayat Raja-raja Melayu oleh Farha Muhammad - Nur Shazwani Sadzali dari Jabatan Pengajian Am, Politeknik Ibrahim Sultan



Rumahku Syurgaku @ HIKMAH VIII di Baitul Hikmah, Sungai Buaya, Rawang, Selangor 8 Februari 2014


1. Tradisi Gemilang: Seni Mushaf Terengganu Abad ke-19 oleh Mohd Zahamri Nizar, aktivis seni rupa Melayu


2. Ruang Mihrab Rumah Rasulullah SAW dan Perkaitannya dengan Falsafah Gunungan bersumberkan Al-Quran oleh Puan Harleny Abd Arif, pengkaji dan calon PhD seni UPSI (Universiti Perguruan Sultan Idris)

Mutiara HIKMAH @ HIKMAH IX di Bayan Lepas, Pulau Pinang 22 Februari 2014


1. Penempatan awal Melayu di Pulau Pinang - Roslan Saadon dari NGO Peradaban


2. Wang Fiat dan keruntuhan ekonomi Orang Melayu - Amirul Haji Mohamad, jururunding utama AHM Creates, firma khidmat nasihat kewangan Islam. Penerbit dan hos rancangan “Islamic Finance” di Capital TV, UNIFI


3. Tujuh Wasiat Raja-raja Melayu – Shamsul Yunos, wartawan dan aktivis media bebas


4. Mencari Jati Diri Melayu Melalui Peninggalan Sejarah – Radzi Sapiee, presiden dan pengasas HIKMAH, penulis trilogi novel “Berpetualang ke Aceh”


5. Ancaman terhadap Akidah Umat Islam - Sheikh Raja Aman bin Raja Mokhtar, pemimpin Tariqat Shah Naqshband Az-Zainiyyah

HIKMAH Aceh - Kembali ke Makam Nenda @ HIKMAH X di Banda Aceh, Aceh 29 Mac 2014



1. Pengenalan HIKMAH – Radzi Sapiee, presiden dan pengasas HIKMAH, penulis trilogi novel “Berpetualang ke Aceh”


2. Sahibul Hikayat Bustanus Salatin - Muammar Farisi dari SILA (Sejarah Indatu Lemuria Aceh)


3. Pelestarian Situs Sejarah dan Budaya di Aceh - Teuku Zulkarnaian dari Dinas Budaya dan Parawisata (Jabatan Kebudayaan dan Pelancongan) Aceh, juga Raja Nagan, raja bagi negeri kecil Nagan di bawah Aceh Darussalam.